Anaku sayang,cintai Nabimu yaitu Rosulullah Muhammad SAAW, karena hanya dengan syafaatnya kita akan selamat dari api neraka. Karenanya kenalilah beliau karena tidak kenal maka tak sayang.
Orang tua Rosulullah.
Mengenal nama dan siapa orangtua Rosulullah Muhammad itu sudah kalian ilmui, yang ingin papa jelaskan adalah ,Apakah Orang tua Rosulullah Mukmin atau kafir??
(1). Mengenai silsilah Nabi saww sampai ke nabi Adam as, ada dua pandangan:
a- Di syi’ah,secara muttafakun ‘alaihi mengatakan bahwa Nabi saww dari keturunan mukmin sampak ke nabi Adam as.
b- Di sunni, ada dua pendapat:
Pertama, mengatakan bahwa ayah-ibu Nabi saww adalah kafir.
Ke dua, semua orang tua Nabi saww sampai ke nabi Adam as, adalah mukimin semuanya. Kelompok ke dua ini, seperti al-Mas’uudii, al-Ya’quubii, al-Maawardii, al-Raazii dalam kitabnya Asraaru al-Tanziil, al-Sanuusii, al-Tilmasaanii, al-Suyuuthii yang telah mengarang beberapa risalah/makalah untuk ini seperti:
1- Masaaliku al-Hunafaa’;
2- al-Daraju al-Muniifah fii Aabaa-i al-Syariifah;
3- al-Maqaamatu al-Sundusiyyah fii al-Nisabati al-Mushthafawiyyah; 4- al-Ta’zhiiu wa al-Minnatu fii anna abawai Rasulillah saww fii al-Jannah;
5- al-Subulu al-Jaliyyatu fii al-Aabaa-i al-‘Aliyyah; 6- Nasyru al-‘Aalamiin al-Muniifiin fii Itsbaati ‘Adami Wadh-i Hadiits Ihyaa-i Abawaihi saww Wa Islaamihima ‘Alaa Yadaihi saww.
2). Secara logika, sudah semestinya mengambil yang lebih kuat, yaitu bertemunya pandangan dari dua atau lebih golongan yang berbeda. Begitu pula, akan lebih aman tanggung jawabnya kepada Nabi saww nanti di akhirat. Karena kalau kita mengimani kemukminan seluruh silsilah beliau saww dan salah, maka kita tidak akan mendapat murka beliau saww, karena telah berbaik sangka dan, sudah tentu karena ayat-ayat dan hadits-hadits yang ada. Tapi kalau kita mengafirkannya, dan salah, maka sudah pasti akan mendapat murka beliau saww.
(3). Sebagian dalil dari golongan syi’ah adalah seperti:
a- dalil-dalil ayat:
a-1- (QS: 26: 219):
وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ
"Dan penurunanmu –Muhammad- di dalam orang-orang yang bersujud.”
Keterangan:
Maksud dari ayat ini adalah bahwa silsilah Nabi saww dari ayah2 yang bertauhid dan bersujud kepada Allah sejak dari beliau saww sampai ke nabi Adam as. Sebagian muslimin menafsirkan ayat tsb kepada makna lain seperti bahwa beliau saww berubah-rubah (dalam gerakan ibadahnya seperti rukuk dan sujud) diatara orang-orang yang bersujud. Atau dengan lain-lain penafsiran.
a-2- QS: 2: 128:
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ
"Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua Sebagai muslim kepadaMu, dan begitu pula dari keturunan2 kami, semuanya menjadi muslim kepadaMu.”
Doa di atas ini adalah doa nabi Ibrahim as. Kalau Tuhan mengabulkan doanya dimana memang demikian halnya sesuai dengan ayat-ayat lain dan riwayat-riwayat, maka semuanya saling menguatkan bahwa silsilah Nabi saww semuanya adalah muslimin.
a-3- QS: 43: 28:
وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ
"Dan Ia menjadikannya –kalimat tauhid- tetap ada di keturunannya –Ibrahiim as.”
Ayat ini jelas menunjukkan bahwa kalimat tauhid itu selalu ada di keturunan nabi Ibrahim as. Siapaun yang menjadi "Pelaku” dari "ja’ala” (menjadikan), maka ia tetap menunjukkan adanya kalimat tauhid itu di keturunan nabi Ibrahim as.
Sebagian penafsir, menafsirkan bahwa yang menjadikan kalimat tauhid itu kekal di keturunan nabi Ibrahim as adalah Allah. Dan sebagian yang lain adalah nabi Ibrahim as sendiri. Yakni menjadikan kalimat tauhid Sebagai pedoman yang silih berganti selamanya (lihat tafsiran Depag).
Apapun kemungkinan2nya dan siapapun yang menjadi pelaku dari yang menjadikan itu, maka hasilnya sama. Karena: Pertama,kalimat tauhid itu tetap ada di keturunan nabi Ibrahim as, sesuai dengan kesaksian Allah.
Sebegitu indahnya ayat ini. Baaqiyah, maknanya adalah "tetap ada” atau "kekal”. Keindahnya, karena kepastian bagi adanya yang membawanya. Anggap yang menjadikan tetap ada itu bukan Tuhan dan nabi Ibrahim as (Sebagaimana terjemahan Depag), akan tetapi ketetap ada-an-nya, merupakan dalil bagi keberadaan pembawanya yang akan membwanya dan mengingati yang lainnya kalau menyukutukan Tuhan. Dengan demikian, maka tidak syak lagi, bahwa ayat ini mengiramai ayat-ayat lain dan hadits-hadits yang ada yang menerangkan bahwa silsilah Nabi saww itu dari orang-orang yang bertauhid kepada Allah.
a-4- QS: 14: 40:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
"Ya Tuhan, jadikanlah aku dan keturunanku Sebagai penegak shalat, ya Tuhan, kabunkanlah doa.”(doa ini pula yang selalu papa panjatkan, semoga Allah mengabulkannya)
Keterangan dari ayat ini sama dengan ayat-ayat tentang doa nabi Ibrahim as di atas.
a-5- QS: 14: 35:
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ
"Dan jauhkanlah aku dan keturunanku dari menyembah berhala.”
Keterangan ayat ini juga sama dengan doa-doa nabi Ibrahim as yang sebelumnya.
b- dalil-dalil hadits:
Karena kemuttafakun ‘alaihi-an di syi’ah tentang silsilah Nabi saww yang semuanya mukmin sampai ke nabi Adam as, maka papa merasa tidak perlu membawakannya disini.
(4). Sebagian dalil sunni tentang keimanan silsilah Nabi saww sampai kepada nabi Adam as.
a- Dalil ayat:
Dalam kesempatan ini Papa hanya akan membawakan satu ayat saja, yaitu yang mengatakan bahwa :
"Dan perubahanmu –Muhammad- di dalam orang-orang yang bersujud.”
yang menafsirkan ayat ini kepada atau juga kepada, bahwasannya silsilah Nabi saww itu adalah orang-orang beriman sampai ke nabi Adam as, adalah seperti:
- Suyuuthi dalam tafsirnya al-Durru al-Mantsuur.
- Ismail bin Umar bin Katsiir al-Qurasyii al-Damasyqi, dalam tafsurnya Tafsiiru al-Qur aani al-‘Azhiim (700 H – 774 H).
- Qur thubii, dalam tafsirnya al-Jaami’u Li-ahkaami al-Qur aan atau yang juga dikenal dengan Tafsir Qurthubi.
- Al-Syaukaanii dalam tafirnya dalam tafsirnya Fathu al-Qadiir.
- al-Tsa’labii dalam tafsirnya.
- ............dll.
b- dalil-dalil hadits (di sunni).
Disini papa hanya akan membawakan satu hadits yang agak pnajang yang diriwaytkan oleh Suyuuthi di tafsirnya al-Durru al-Mantsuur dimana riwayatnya datang dari Ibnu ‘Abbas yang diriwayatkan dan dikeluarkan oleh Ibnu Murdawaih:
وأخرج ابن مردويه عن ابن عباس قال : « سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم فقلت : بأبى أنت وأمي أين كنت وآدم في الجنة؟ فتبسم حتى بدت نواجده ثم قال » إني كنت في صلبه ، وهبط إلى الأرض وأنا في صلبه ، وركبت السفينة في صلب أبي نوح ، وقذفت في النار في صلب أبي إبراهيم ، ولم يلتق أبواي قط على سفاح ، لم يزل الله ينقلني من الإِصلاب الطيبة إلى الأرحام الطاهرة مصفى مهذباً لا تتشعب شعبتان إلا كنت في خيرهما ....
Ibnu ‘Abbas berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah saww: "Demi ayah-ibuku, dimanakah Anda ketika nabi Adam as di surga?” Nabi sww tersenyum sampai tanpak gerahamnya dan bersabda:
"Aku berada di sulbinya, dia –as- diturunkan ke bumi dan aku berada di sulbinya. Aku juga menaiki perahu di sulbi nabi Nuh (as). Aku juga terlempar ke api di sulbi nabi Ibrahim (as). Tidak seorangpun dari kedua orang tuaku yang berzina, dan selalunya Allah memindahkanku ke sulbi2 yang baik dan rahim2 yang suci, bersih dan mulia. Tidak bercabang darinya –sulbi dan rahim- menjadi dua bagian, kecuali aku berada di yang paling baiknya. ..”
.
Catatan:
1-Di tafsir2 sunni banyak yang mengatakan bahwa Nabi saww selalu dipindahkan dari nabi ke nabi, misalnya yang diterangkan di tafsirnya Suyuuthi:
وروى البزار وابن أبي حاتم، من طريقين، عن ابن عباس أنه قال في هذه الآية: يعني تقلبه من صلب نبي إلى صلب نبي، حتى أخرجه نبيا
Diriwayatkan oleh al-Bazzaar dan Ibnu Haatim, dengan dua jalan/sanad, dari Ibnu ‘Abbas yang berkata dalam ayat ini ("Dan perpindahanmu/perubahanmu –Muhammad- di dalam orang-orang yang bersujud”):
"Yaitu, perubahannya –Muhammad saww- dari sulbi nabi ke sulbi nabi yang lain hingga Allah mengeluarkannya –Muhammad- Sebagai nabi.”
2- Keterangan Ibnu ‘Abbas ini sama dengan beberap riwayat bhs Nabi saww selalu berpindah dari sulbi seorang nabi ke sulbi nabi yang lain atau ke seorang wali.
3- Sebaiknya, bagi kalian anak anaku yang tidak belajar agama secara khusus sampai ke tingkat tinggi, maka usahakanlah untuk tidak mendukung pandangan yang lain yang mengatakan kekafiran orang tua Nabi saww atau silsilah beliau as walau pada sebagiannya. Karena, dengan belajar agama secara khusus di akademi atau pusat agama, 10-15 tahunpun, sangat tidak cukup untuk menjadikannya alasan dalam kesalahannya itu.
Karena kesalahan tanpa dalil yang dalam dan kuat, dalam urusan agama dan hal-hal yang berurusan dengan orang lain, dan apalagi berurusan dengan Nabi saww, maka akan sulit mendapatkan maaf dari beliau saww dan Allah swt.
4- Mungkin dalam penjelasan sebagian ulama dikatakan bahwa para ulama dan orang-orang sunni yang mayoritasnya mengafirkan kedua orang tua Nabi saww dan begitu pula Abu Thalib, hanya karena ingin menyamakan silsilah Nabi saww dan imam Ali as, seperti silsilah para khulafa’ Bani Umayyah dll-nya. sehingga di produksilah hadist hadis palsu yang mennyesatkan
Produksi hadits dalam hal ini sangat terasa Sekali, seperti di shahih Muslim yang meriwayatkan bahwa Nabi saww pernab bersabda kepada satu shahabat: "Ibuku dan ibumu di neraka.” Bayangin, anggap memang kafir, tetapi mengapa harus di neraka? Bukanlah belum datang nabi mengajarkan tauhid pada mereka? Sebegitu tendensiusnya riwayat-riwayat seperti ini, hingga kemengada-ngadaannya juga sangat kentara.
Doakan papa,agar dosa dosa papa diampuni,dan kesalahan kesalahan papa pada kalian dimaafkan
Salam sayang papa dari Alam lain.

Komentar
Posting Komentar