Langsung ke konten utama

TAUHID

1- Untuk penafsiran surat tauhid ini, sebenarnya bisa dipelajari di akidah. Bisa merujuk ke catatan yang berjudul "Pokok-pokok dan Ringkasan Ajaran Syi'ah" bagian tauhidnya. Rinfkasnya bisa disimak di bawah ini. Begitu pula bisa merujuk ke catatan tentang Irfan dan Wahdatu al-Wujud. Jadi, surat Tauhid itu, bisa dipahami dengan mempelajari ilmu Kalam dan Irfan.
2- Inti Ajaran Tauhid dan Akidah Tentang Tuhan dalam Pandangan Ilmu Kalam dan Filsafat
Inti ajran tauhid dan akidah tentang Tuhan dalam pandangan ilmu Kalam dan Filsafat adalah:
a- Tuhan itu artinya Wujud Tidak Terbatas. Karena itu, tidak dicipta dan tidak pula bermula dan, juga sekaligus merupakan sumber dari segala wujud yang ada.
b- Tuhan yang demikian itu, pasti adaNya. Karena kalau tidak ada, maka tidak mungkin ada keberadaan yang terbatas. Sebab yang terbatas, memiliki awal dan akhir. Yang memiliki awal, maka pasti sebelum awalnya itu, ia tidak ada. Dan kalau sebelum awal tidak ada, lalu setelah awal menjadi ada, maka sudah pasti diadakan oleh yang lainnya, baik oleh yang tidak terbatas, atau oleh yang juga terbatas akan tetapi bersumber kepada yang tidak terbatas. Nah, kalau yang tidka terabtas itu tidak ada, maka tidak mungkin ada keberadaan apapun. Sebab kalau tidak ada yang tidak terbatas, berarti semua wujud adalah terbatas. Dan kalau semuanya terbatas, berarti semuanya memiliki awal dan akhir. Dan kalau semuanya memiliki awal, maka semuanya, sebelum awalnya itu, tidak ada. Dan kalau semuanya tidak ada, lalu dari mana keberadaan mereka itu? Dengan demikian, maka dengan adanya wujud yang terbatas ini, memastikan adanya wujud yang tidak terbatas. Nah, wujud yang tidak terbatas itulah yang dikatakan Tuhan.
c- Tuhan yang demikian itu, pasti satu dan esa. Sebab kalau ada dua atau lebih, maka sudah pasti sama--sama terbatas. Dan kalau terbatas, berarti makhluk sebagaimana sudah diterangkan di atas.
d- Tuhan yang demikian itu, pasti tidak terangkap. Sebab kalatu terangkap, misalnya dari Dzat dan Sifat, maka sudah pasti semua rangkapannya itu saling membatasi dan karenanya membuat mereka sama-sama terbatas. Sementara kita tahu, bahwa gabungan yang terbatas, hasilnya juga terbatas. Nah, kalau Tuhan merupakan gabungan dari rangkapan-rangkapan yang terbatas itu, maka berarti Tuhan itu terbatas. Dan kalau terbatas, maka Dia adalah makhluk. Ini jelas mustahil, Karena itu, maka Tuhan itu tidak mungkin terdiri dari rangkapan-rangkapan.
e- Kalau Tuhan tidak bisa memiliki rangkapan, lalu bagaimana memahami sifat-sifatNya? Jawabannya sebagai berikut:
e-1- Sifat Tuhan itu ada dua macam:
e-1-a- Sifat Dzat. Yaitu suatu sifat yang dapat dipahami tanpa menghubungkan Tuhan dengan selainNya, seperti sifat Ada, Azali (tidak bermula), Abadi (tidak berakhir), Ilmu (tentang DiriNya), Kuasa, Hidup, Berkehendak dan Berdiri Sendiri.
e-1-b- Sifat Perbuatan. Yaitu sifat yang dapat dipahami dengan menghubungkan Tuhan dengan selainNya. Misalnya, sifat Pencipta yang dipahami dengan menghubungkan DiriNya dengan makhluk ciptaanNya. Sifat Pengampun, Pemberi Rejeki, Pemberi Petunjuk, Maha Kasih, Maha Penyayang, dan seterusnya.
e-2- Nah, memahami sifat Dzat di atas, adalah bahwa sifat-saifat itu adalah hakikat DzatNya tanpa perubahan sedikitpun. Alasannya karena semua sifat-sifat Dzat tersebut adalah tidak terbatas, seperti IlmuNya, KuasaNya, HidupNya, KehendakNya dan seterusnya. Nah, kalau semua sifat-sifat DzatNya itu tidak ada yang terbatas, yakni semua tidak terbatas, maka pada hakikatnya mereka itu adalah hakikat yang satu, bukan hakikat yang menyatu. Jadi, nama Dzat yang Allah, nama sifat Dzat yang Kuasa, Ilmu dan semacamnya itu, pada hakikatnya adalah sama. Karena itu bisa dikatakan bahwa Allah itu sama persis denga Kuasa. Kuasa sama persis dengan Kehendak. Kuasa sama persis dengan Ilmu, Hidup dan semacamnya.
Dalil di atas, untuk membuktikan kesamapersisan Dzat dan Sifat-sifatNya dalam kenyataanNya atau hakikatNya, bukan dalam pemahamanNya. Kalau dalam pemahaman kita, maka pahaman Dzat dan Sifat itu sudah pasti berbeda dan begitu pula antar sesama sifat-sifatNya. Kuasa sudah tentu beda dengan Ilmu, Allah, Kehendak, Hidup dan semacamnya. Tapi keberbedaan ini, hanya dalam pahaman kita saja. Sedang kenyataanNya, benar-benar satu, sama dan Esa.
e -3- Memahami Sifat Perbuatan di atas, adalah memahami bahwa Sifat Perbuatan itu adalah sifat yang Baru/haadits. Tidak seperti Sifat Dzat yang tidak terbatas dan Qadim (tidak baru) dan Azali. Mengapa sifat Perbuatan ini baru? Sebab ada dan terpahaminya, setelah adanya makhluk yang dicipta, diampuni, dihidayahi, dirahmati, dikasihi, dilindungi, direjiki-i dan semacamnya. Karena itu, sifat-sifat Perbuatan ini, adanya adalah setelah adanya makhluk. Karena itu, semua sifat Perbuatan adalah baru.
Kalau baru, maka tidak bisa disamapersiskan dengan DzatNya. Karena kalau disamapersiskan seperti Sifat Dzat, maka DzatNya juga akan menjadi baru dan karenanya akan menjadi makhluk. Hal ini jelas tidak mungkin.
Akan tetapi, semua sifat-sifat Perbuatan yang baru itu, bersumber dari Sifat Dzat, misalnya Kuasa. Sebab sekalipun Tuhan belum mencipta hingga tidak bisa disebut Pencipta, akan tetapi Dia, jelas Maha Kuasa untuk mencipta. Jadi, semua sifat Perbuatan itu, kembalinya kepada Sifat Dzat. Barulah ketika sudah dikembalikan, disamapersiskan dengan DzatNya.
e-4- Dengan penjelasan di atas, maka dapat dipahami bahwa mentauhidkan Tuhan itu ada berbagai tingkatan:
e-4-a- Tauhid dalam DzatNya: Yaitu meyakini AdaNya, EsaNya dan semacamnya.
e-4-b- Tauhid dalam SifatNya:
- Dalam Sifat Dzat: Yaitu meyakini bahwa Tuhan dalam kenyataan hakikatNya, memiliki Sifat-sifat Mulia yang merupakan Sifat-Dzat dimana semua Sifat Dzat ini adalah sama persis dan begitu pula semua Sifat Dzat itu dengan DzatNya dan dimana keberbedaan semua itu hanya ada di dalam akal dan pahaman kita, tidak sebagaimana dalam kenyataan hakikatNya.
- Dalam Sifat Perbutan: Yaitu meyakini bahwa Tuhan dalam kenyataan hakikatNya, memiliki Sifat-sifat Mulia yang merupakan Sifat -Peruatan dimana Sifat Perbuatan ini adalah baru dan tidak sama persis dengan DzatNya. Akan tetapi, semua semua Sifat Perbuatan ini, berpulang kepada Sifat Dzat dan barulah setelah berpulang itu bisa disamapersiskan dengan DzatNya hingga menjadi sama-sama Qadim dan Tidak Terbatas sebagaimana layaknya Sifat Dzat.
4-c- Tauhid dalam Hal-hal lain: Tauhid atau PengEsaan Tuhan dalam Syi'ah, tidak terbatas pada hal-hal di atas, melainkan juga meliputi segenap hal pentauhidan, misalnya:
- Tauhid dalam Syari'at: Yaitu meyakini bahwa hanya Tuhan yang berhak memberikan syari'at.
- Tauhid dalam Ketaatan: Yaitu meyakini bahwa hanya Tuhan yang wajib ditaati, baik langsung atau tidak langsung (seperti taat pada Nabi saww, Ahlulbait as, orang tua dan semacamnya).
- Tauhid dalam Ekonomi: Yaitu meyakini bahwa hanya Tuhan yang bisa mengatur dan wajib ditaati dalam semua urusan ekonomi.
- Tauhid dalam Pemerintahan: Yaitu meyakini bahwa hanya Tuhan yang bisa dan wajib ditaati dalam hukum-hukum pemerintahan. Tapi ingat, tidak ada paksaan dalam Islam.
- Tauhid dalam Budaya: Yaitu meyakini bahwa hanya Tuhan yang bisa dan wajib ditaati dalam pengaturan kebudayaan manusia hingga Dialah yang menentukan mana yang halal dan mana yang haram dan seterusnya.
- Tauhid dalam Ibadah dan Ketaatan: Yaitu meyakini bahwa hanya Tuhan yang bisa diibadahi dan ditaati.
- Tauhid dalam .........................dst dimana intinya menghanyaTuhankan dan menghanyaDiakan dalam segala otoritas pengaturan dan ketaatan yang menyangkut kehidupan manusia dan semua alam kebeadaan.
Inti ajaran Irfan atau Wahdatu al-Wujud tentang Tuhan adalah:
Ketika kita sudah memahami bahwa Tuhan itu adalah hakikat wujud Yang Tidak Terbatas, maka sudah tidak mungkin lagi mungkin lagi menyisakan suatu tempat atau ruangan untuk keberadaan selainNya. Sebab kalau yang lainNya itu ada sekalipun tidak terbatas, maka akan menjadi pembatas bagi DiriNya yang diyakini sebagai Tidak Terbatas itu.
Jadi, kalau ilmu Kalam dan Filsafat membuktikan adanya Yang Tidak Terbatas dengan keberadaan yang terbatas, tapi kalau Irfan meneruskan pemahaman yang Tidak Terbatas itu. Jadi, kalau ilmu Kalam dan Filsafat membuktikan keEsaan Tuhan Yang Tidak Terbatas dengan keTidakTerbatasanNya, tapi kalau Irfan membuktikan keEsaan WujudNya hingga tidak ada wujud selainNya.
4- Setelah memahmi pengulangan dan ringkasan dua tauhid (Kala/Filsafat dan Irfan) di atas, maka barulah bisa lebih baik memahami surat Tauhid walau, yang jelas hanya Tuhan dan makshumin as yang tahu hakikat maknanya. Mari kita lihat surat Tauhid tersebut dengan uraian berikut:
a- Asal terjemahannya:
"Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakan (Muhammad) Dia Allah Yang Esa. Allah itu Maha Berisi (Berdiri Sendiri). Tidak Beranak dan Tidak Diperanakkan. Dan Tidak Satupun Yang Bisa MenyamaiNya."
b- Tafsiran Pendeknya:
b-1- Asmaa' atau Nama yang dijadikan pendenganan di ayat bismillaah, sebagaimana yang sudah sering dijelaskan, bukanlah nama/asmaa' yang berupa kata-kata. Karena kata-kata tidak bisa memberikan efek apapun di alam nyata selain berupa gelombang suara manakala diucapkan atau gelombang cahaya manakala dituliskan. Atau hanya bisa memberikan makna pemaksudan ketika dibicarakan. Sementara yang dimaksudkan dalam ayat bismillaah ini, adalah yang memberikan efek nyata.
Karena itulah, maka sudah sering dijelaskan di fb ini, bahwa Nama atau Asmaa' di sini maksudnya adalah makna itu sendiri. Jadi, Asmaa' Allah adalah Allah itu sendiri di hakikat nyataNya. Begitu pula Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Jadi, bukan kata Allah, Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Dengan uraian ringkas ini, maka dapat dipahami bahwa maksud dari Asmaa' di ayat ini adalah makna dan hakikat Tuhan/Allah serta sifat-sifatNyya itu. Jadi, hakikat Allah dan Sifat-sifatNya itu adalah Nama/Asmaa',,, sementara kata-kata Allah dan Sifat-sifatNya itu, adalah Namanya-nama, bukan Nama itu sendiri.
Nama Allah, maknanya adalah Hakikat Yang Tidak Terbatas, Maha Hidup, Kuasa, BerIlmu, Berkehendak, Berdiri Sendiri, Qadim dan Azali.
Nama al-Rahmaan (Maha Pengasih) artinya, hakikat Sifat Tuhan Yang Mengasihi semua makhlukNya, baik manusia atau bukan, baik mukmin atau kafir. Ingat, HAKIKAT SIFAT TUHAN, BUKAN SIFAT YANG ADA DALAM KATA ATAU PEMAHAMAN KITA.
Nama al-Rahiim adalah hakikat sifat Tuhan yang mengasihi makhluk yang diridhaiNya seperti mukminin, baik di dunia atau di akherat
b-2- "...Dia Allah ...."
Ada dua penafsiran untuk kalimat di atas, yakni "Dia Allah", yaitu:
a- Dia itu diartikan dhamir sya-an atau penyambung yang berarti "Yang" hingga Allah menjadi mubtada'/subyek dan Satu adalah khabar/beritanya atau predikatnya. Karena itu, maksud dari "Dia Allah", adalah "Yang Allah". Karena itu, kalimat tersebut menjadi "Katakan bahwa yang Allah itu adalah Satu/Esa". Penulisan pendeknya dan bagusnya menjadi "Katakan bahwa Allah itu Esa/Satu."
b- "Dia" itu diartikan sebagai benar-benar dhamir/kata-ganti dari "Dia" yang merupakan orang/pihak ke tiga yang majhuul atau tidak diketahui. Karena itu, "Dia" di sini berfungsi sebagai mubtada' atau subyek dan khabarnya atau predikat pertamanya adalah Allah lalu Esa/satu-nya sebagai khbar/predikat ke duanya . Jadi, artinya menjadi "Katakan bahwa Dia itu adalah Allah yang mana Allah ini adalah Esa". Kalau ditulis dengan pemendekan maka akan menjadi "Katakan bahwa Dia itu adalah Allah yang Esa."
Beda Kedua Tafsiran:
- Kalau penafsiran pertama, maka:
--- Yang dijelaskan dari maqam Allah, hanya dari maqam Allah tersebut ke maqam yang di bawahNya, seperti sifat-sifatNya.
--- Dari penafsiran seperti itu, bisa terpahami bahwa maqam tertinggi itu adalah Allah atau Dzat Allah.
--- Karena itu tingakata maqam atau derajat itu bisa seperti ini: Alllah, lalu Sifat-Dzat, lalu Sifat-Perbuatan, lalu Akal-satu sampai dengan Akal-akhir, lalu Barzakh, lalu Matgeri.
- Kalau penafsiran ke dua, maka:
--- Maqam Allah itu bukan maqam tertinggi.
--- Maqam tertinggi itu adalah Huwa/Dia.
--- Ketika maqam tertinggi itu adalah Dia, maka Allah akan menjadi Asmaa' Dzat, bukan Dzat itu sendiri. Artinya, tajalli dan menifestasi dari Dzat Huwa tersebut.
--- Dengan demikian, maka urutannya sebagai berikut: Dia, lalu Allah, lalu Sifat-Dzat, lalu Sifat-Perbuatan, lalu Akal-satu sampai dengan Akal-akhir, lalu Barzakh, lalu Materi.
--- Huwa atau "Dia" adalah Dzat Tuhan yang sama sekali tidak bisa disentuh dengan pahaman, akal dan apapun juga. Disebut dengan Ghaib Mutlak/muthlaq yang tidak bisa dikenali oleh siapapun, baik malikat tertinggi atau nabi/rasul terhebat.
--- Nah, ketika Dia itu tidak bisa dikenali sama sekali, maka Tuhan mengenalkan diri dengan Asmaa' DzatNya yang berupa hakikat Asmaa' Allah yang merupakan tajalli dari Dzat Huwa yang tidak bisa dikenali sama sekali itu.
--- Dengan demikian, maka tafsiran ke dua ini, lebih nyaman dan lebih cocok dengan perincian keterangan tentang tauhid secara ilmu Irfan di atas. Karena Allah akan menjadi Nama atau Asmaa' yang berupa hakikat (bukan kata-kata) yang sedikit bisa terbayangkan walau tidak dalam bentuk-bentuk dan penyerupaan serta harus terus disifati dengan Akbar (lebih besar), yakni hakikat Asmaa' Allah itu tetap lebih besar dari apapun pahaman kita tantang hakikat Asmaa' Allah itu. Beda dengan maqam Huwa yang sama sekali tidak bisa di bayangkan.
b-3- "Allah itu Esa/Satu".
Satu, memiliki dua pengertian:
- Satu yang berarti batasan kwantitas seperti ""satu telur", "satu bumi", "satu orang" ...dst. Satu seperti ini, karena merupakan batasan dari obyek yang disifatinya, maka tidak menutup kemungkinan adanya yang ke dua, tiga dan seterusnya. Karena itu, sekalipun bumi itu satu dan kita tidak tahu ke dua dan ke tiganya, tetap ke-satu-an dari pada bumitersebut tidak dapat menutup kemungkinan adanya ke dua, ke tiga dan seterusnya itu. Sebab makna "bumi yang satu" adalah bumi yang dibatasi dengan keterbatasan dirinya hingga menjadikan "satu" tersebut sebagai sifat dan kwantitasnya. Karena itu, di luar batasannya, tidak dicakupi oleh satu-nya bumi hingga di luar batasan dirinya itu, terdapat kekosongan yang bisa diisi dengan bumi-bumi yang lain, sekalipun bumi yang lain itu tidak ada sekalipun. Jadi, nafas "satu" yang kwantitas itu, adalah penetapan suatu batasan volume atau kwantitas dan tidak memiliki kemampuan untuk menolak dan memustahilkan keberadaan yang lainnya dari obyek yang sama (sperti bumi itu).
- Satu yang hakiki dan bukan kwantitas. Yaitu satu yang dipakai pada obyek yang tidak terbatas, yaitu Tuhan. Ketika satu ini dipakai pada Tuhan yang mana Dia itu Tidak Terbatas, maka jelas menolak kemungkinan adanya yang lainNya, karena tidak ada ruang atau bahkan maqam yang kosong dariNya lantaran ketidakterbatasanNya itu. Dengan demikian, maka "satu" yang disifatkan keapda Tuhan, adalah satu hakiki yang tidak ada kemungkinan duanya, tiganya dan seterusnya.
B-4- "Allah itu Shamad"
Shamad ini memiliki banyak arti seperti: Tuan yang dituju/dimaksud dalam urusan-urusan; Kokoh; Agung; Kekal; (dari imam Husain as ada lima makna sebagai berikut; Tidak Kosong (penuh); Tidak makan dan minum; Tidak tidur; Tidak pernah tidak ada dan akan terus ada; Tertinggi martabatnya; (dari Muhammad bin Hanafiah) Berdiri sendiri; Tidak memerlukan selainNya; (dari imam Ali Zainu al-'Aabidin as) Tiada sekutu; Tidak lelah menjaga sesuatu; Tidak ada yang tidak diketahuiNya; (yang lain juga mengatakan) Yang berkata "Jadilah" maka jadilah; ......dan seambrek lagi makna dari al-Shamad ini.
Kalau mau digabungkan secara keseluruhannya walau tidak menyertakan semua tafsirannya, maka "Allah al-Shamad" itu bisa diartikan dengan: "Allah itu Maha Kaya (tidak kosong), Berdiri Sendiri, Kokoh, Berderajat Tinggi, Tidak Makan-minum, Tidak Tidur, Qadim-Azali, Dituju dalam segala urusan, ketaatan dan doa"
b-5- "Tidak Bernak dan Tidak Diperanakkan"
Maksudnya adalah tidak keluar dari padaNya apapun keberadaan, baik yang materi atau yang non materi sebagaimana keluarnya sesuatu dari sesuatu yang lain yang ada pada makhluk-makhlukNya. Karena Dia Tidak Terbatas hingga ada yang bisa keluar dan tgerpisah dariNya seperti keluarnya sesuatu dari sesuatu yang lain. Begitu pula, Dia tidak dikeluarkan dari sesuatu apapun.
Sebab ketika Dia itu Tidak Terbatas, maka keluar dariNya atau Dia keluar dari sesuatu, sudah tidak bermakna lagi. Karena itu, "tiada dari" dariNya dan "tiada dari" untukNya.
Sedang maksud dari pernyataan "Kita semua dariNya dan kembali kepadaNya" adalah diciptakanNya (bukan dilahirkanNya) atau juga ditajallikanNya (kalau di Irfan). Dan kembali kepadaNya, adalah kembali dari posisi ciptaanNya menuju kepadaNya walau tidak akan pernah sampai sebagaimana sudah sering dijelaskan (lantaran memakai kata "kepada"Nya dimana berarti selalu "kepada" yang berarti tidak akan pernah sampai), atau kembali dari pentajallianNya kepada fanaa' padaNya (kalau di Irfan).
Apapun itu, keluar dari dan kembali kepadaNya, bukan dalam artian tempat, volume, wujud dan keterpisahan sebagaimana "keluar dari" dan "menuju pada" terhadap yang lainNYA.
b-6- "Tidak ada yang menyerupaiNya"
Kalau Allah itu memiliki hakikat yang tidak terbatas, maka selain tidak ada yang keluar dariNya dan tidak ada yang menyumberiNya, ka Dia juga akan tersifati dengan sifat "Tiada Serupa BagiNya", baik dalam kewujudan atau dalam sifat-sifatNYA.
Semoga bermanfaat.
Salam ukuwah suny syiah.

Komentar