Langsung ke konten utama

BERMUKA MANIS BUKAN MASAM

Sebelum menelaah lebih jauh atas ayat-ayat tersebut, tokoh syiah tlh  melakukan penyelidikan terhadap hadîts yang dijadikan bukti sebab turunnya ayat ‘Abasa. Dan dari hasil penyelidikan tersebut adalah:
a) Kitab hadîts Shahîh Bukhârî dan Shahîh Muslim tidak meriwayatkannya, jadi hadîts ini tidak muttafaq alaih/disepakati.
b) Terdapat beberapa perawi yang ganjil yakni:
1. Yahyâ ibn Sa’îd
Yang merupakan seorang penulis sejarah hidup Rasul saww, sedangkan Imam Ahmad ibn Hanbal tidak begitu mengandalkannya karena ia bukan termasuk Ahli Hadîts.
2. ‘Urwah ibn Zubeir
Dia termasuk nashîbî, nashîbî adalah pembenci keluarga Rasul, dengan demikian menurut Ibn Hajar Al-Atsqalanî bahwa riwayat orang yang nashîbî dianggap lemah dan tidak dapat dipercaya.
3. Hisyâm ibn ‘Urwah
Menanggapi Hisyâm ibn ‘Urwah ini, Ibn Hajar Al-Atsqalanî menganggapnya sebagai Mudallis (menyandarkan riwayat bukan pada orang yang sebenarnya), dengan demikian riwayatnya tidak dapat dipercaya.
4. ‘Aisyah Ummul Mu’minin
Kalau kita lihat kembali bahwa ayat tersebut adalah ayat makkiyah, sedangkan Ummul Mu’mini ‘âisyah ra. masih kecil. Sehingga kita ragukan dari mana beliau mendengar hadîts tersebut.
Beliau juga mengatakan bahwa adanya tiga struktur sosial dalam sejarah yang berkaitan dengan turunnya surah ‘Abasa ini. Pertama yakni Nabi Muhammad saw yang merupakan penghulu para rasul yang suci. Kedua, Ibn Ummî Maktûm,yang berstatuskan seorang sahabat miskin lagi buta. Dan Al-Walîd ibn Al-Mughîrah seorang kafir Quraisy kaya bersama kawan-kawannya.
Sutrktur sosial yang pertama adalah barisan para Nabi as. Struktur ini di yakni dalam Al-Qur’ân digambarkan sebagai manusia-manusia yang selalu tampil di panggung sejarah apabila manusia telah lupa terhadap eksistensi dirinya sendiri dan mengesampingkan Tuhan-nya, manakala arah dan orientasi hidupnya berada dalam ideologi-ideologi yang bersifat materialis-individualis. Di situlah agama telah berubah maknanya, seharusnya apa yang semangatnya berasal dari Rasul pembawa risalah Tuhan yang membawa dan menimbulkan perubahan-perubahan terhadap kehidupan manusia.
Adapun struktur sosial kedua, yang diwakili oleh Ibn Ummî Maktûm. Ia adalah symbol kaum yang menanggung beban berat setiap harinya, yang mengisi ukiran peristiwa sejarah berupa dengan penderitaan dan ketertindasan, dan yang kehilangan hak-hak hidup sebagai manusia yang tersisa di dalam masyarakat. Ciri khas struktur sosial ini adalah beriman kepada Allâh dan Rasûl-Nya serta segala yang disampaikan kepada Rasul-Nya. Ibn Ummî Maktûm dalam episode ini adalah salah satu contoh dari sekian banyak orang-orang lemah, fuqarâ’ wa al-masâkîn yang penuh dengan ketulusan hidup di jalan Allah SWT. Struktur sosial inilah yang selalu hidup didekat para Nabi as.
Dan yang ketiga, adalah Al-Walîd ibn Al-Mughîrah, yakni kaum tiran yang selalu menginginkan kekuasaan demi kepentingan individual dan material semata.kelompok ini selalu mengadakan penekanan, penindasan dan berbagai ragam kejahatan sampai yang paling halus sampai yang terang-terangan.. demi mencapai tujuan mereka, tidak jarang mereka menggunakan agama yang kebenarannya telah mereka putar-balikkan. Kelompok ini adalah mereka yang cenderung merusak pondasi-pondasi agama dan orang-orang yang selalu gigih untuk menginginkan lenyapnya risalah Tuhan.
Menurut Ijma’ kaum muslimin bahwa Nabi saww diwajibkan untuk menerima wahyu dan menyampaikan kepada manusia serta memperagakannya dengan ishmah yang sepenuhnya. Kalau Kaum Wahâbî mengatakan bahwa Nabi saww ma’shum hanya dalam menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’ân saja, maka bagaimana pendapat mereka tentang ke-ma’shum-an beliau dalam mewujudkannya? Kalau dia ma’shum dalam mewujudkannya, mungkinkah ia bertentangan dengan isi Al-Qur’ân? Kalau tidak, maka dia bisa salah dalam mewujudkannya, termasuk dalam hukum-hukum?
Tak seorangpun muslim meragukan bahwa ayat Al-Qur’ân turun kepada Nabi saww, namun juga tak seorang muslim pun berpendapat bahwa seluruh ayat Al-Qur’ân turun karena tingkah laku Nabi saww. boleh jadi Al-Qur’ân turun untuk teguran bagi umat manusia. Dengan kata lain Al-Qur’ân turun bukan untuk Nabi, tapi turun kepada Nabi untuk manusia dengan membawa kebenaran. Sebagaimana firman Allâh Surah Al-Zumar ayat 41:
انا أنزلنا عليك الكتاب للناس بالحق فمن اهتدى فلنفسه ومن ضل فانها يضل عليه وما أنت عليهم بوكيل
Sesungguhnya kami menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk Maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat Maka Sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.
Seperti yang diketahui oleh seluruh umat bahwa antara satu ayat atas ayat lainnya itu saling memperkuat dan saling mendukung, akan tetapi mayoritas dari kita memaknai bahwa surah ‘Abasa ini turun atas teguran kepada Rasulullah saww. sehingga memberikan penilaian kepada kita bahwa adanya suatu bentuk kesalahan yang telah dilakukan beliau. Seharusnya, seorang muslim harus gembira dengan pendapat yang menjauhkan Nabi-nya dari perbuatan orang sombong dan kafir, tidak malah meradang-radang dan bersitegang untuk mecemoohkan Nabi Muhammad saww.
Sekali lagi, kenapa justru manusia yang berakhlak agung itu harus dianggap bermuka masam? Dari mana keharusan seperti itu? Ini bertentangan dengan logika. Logika mengatakan, bahwa pribadi orang yang berwatak agung dan suri teladan tidak mengkin bermuka masam. Bagaimana bisa Nabi dikatakan bermuka masam terhadap salah seorang sahabatnya yang lemah (mustad’‘af), di saat yang sama beliau saww beramah-tamah dengan golongan-golongan kaum kafir yang jelas-jelas memusuhi Rasul baik secara tersembunyi ataupun terang-terangan?
Suatu catatan yang penting sebagai tambahan dalam penolakan kita bahwa Nabi bermuka masam, yaitu dengan adanya suatu ayat yang direkam dalam Al-Qur’ân dari rangkaian wasiat Luqmân kepada putranya dalam suah Al-Luqmân ayat 18:
و لا تصعر خدك للناس ولا تمشى فى الأرض مرحا ان الله لا يحب كل مختال فخور
0Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia, dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Jadi kesimpulannya Ustad Husein Al-Habsyî tidak sependapat dikatakan bahwa ayat ini adalah teguran untuk Nabi, dikarenakan riwayat yang meragukan, dan juga kontradiksi atas sikap-sikap Nabi yang terpuji di dalam Al-Qur’ân, singkat kata menurutnya bagaimana mungkin seorang mu’min yang datang bersusah payah ingin belajar tentang Islam dihadapi dengan wajah yang masam oleh Nabi saww? sedang orang-orang kafir yang enggan belajar dihadapi dengan wajah sepenuhnya.
Karena berbagai macam kejanggalan dan keraguan yang ada pada riwayat tersebut, maka beliau mengadakan rekonstruksi terhadap tafsir surah ‘Abasa seperti dibawah ini:
عبس و تولى
1. Dia (Al-Walîd) bermuka masam dan berpaling,
أن جاءه الآ عمى
2. Karena Telah datang seorang buta kepadanya (Nabi)
وما يدرك لعله يزكى
3. Tahukah kamu (hai Al-Walîd) barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa),
أو يذكر فتنفعه الذكرى
4. Atau dia (Ibn Ummî Maktûm) (ingin) mendapatkan pengajaran (yang didengar dari lidah Rasulullah saww dalam majlis kalian hai benggolan kafir Quraisy), lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?
أما من استغنى
5. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (semacam Abu Jahal dan benggolan-benggolan Quraisy lainnya)
فأنت له تصدى
6. Maka kamu (Al-Walîd) melayaninya.
وما عليك ألا يزكى
7. Padahal tidak ada (celaan) atasmu (hai Al-Walîd) kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).
وأما من جاءك يسعى
8. Dan adapun orang yang datang kepadamu (ke malismu hai Al-Walîd) dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran dan ilmu dari Nabi)
وهو يخشى
9. Sedang ia takut kepada (Allah)
فأنت له تلهى
10. Maka kamu (hai Al-Walîd) mengabaikanya.
Sedangkan muslim syiah mengartikan abassa tdk seperti mayoritas manusia , selain dikarenakan sumber-sumber yang meragukan, beliau juga melihat dari segi figur Rasulullah yang menjadi percontohan bagi umat manusia seluruh dunia. Sebagai model percontohan yang dituntut sempurna, maka sudah pasti tidak boleh cacat sedikitpun. Bagaikan Al-Qur’ân yang diyakini sempurna oleh seluruh umat Islam, maka secara otomatis penyampai-nya dan pemberi contohnya haruslah sempurna layaknya Al-Qur’ân yang menjadi bagian dari akhlaknya. Sehingga tidak masuk akal sekali jika Rasul yang dikenal sebagai uswah al-hasanah, ra’ûf, rahîm melakukan perbuatan amoral seperti itu.
Akan tetapi, terlepas dari pendapat mereka para wahaby kita dapat menemukan jawaban dari menelaah sisi susunan ayat tersebut dalam ayat 6 dan ayat 10.
فأنت له تصدى
5. Maka kamu (Al-Walîd) melayaninya.
فأنت له تلهى
10. Maka kamu (hai Al-Walîd) mengabaikannya.
Kata تصدى yang artinya kamu melayani, dan kata تلهى yang artinya kamu mengabaikan dalam ayat di atas mengindikasikan bentuk perlakuan yang dilakukan seorang yang bermuka masam dalam forum tersebut. Jenis dari dua kata kerja tersebut dalam Ilmu Nahwu dikategorikan sebagai fi’il mudhori’ yang merupakan kata kerja aktif yang disifati berlaku pada masa sekarang dan juga berlaku pada masa seterusnya. Kalau Rasul yang diyakini bermuka masam, maka bagaimana mungkin ia dikatakan sebagai seorang yang حريص/harîs (yang mempunyai kepeduliaan yang sangat terhadap kaumnya) dalam ayat lainnya? Sungguh tidak dapat diterima bahwa Rasul kita bertindak seperti ini, lantas setelah itu mendapatkan pujian-pujian dalam ayat-ayat setelahnya.
Wallah a’lam bi al-shawâb.

Selasa, 12 April 2016

MAKNA HUMAIRA

ANDA PUNYA PUTERI PEREMPUAN dan HENDAK MENAMAINYA dengan NAMA "HUMAIRA"? TUNGGU DULU! BACA INI SEBENTAR.
.
.
HUMAIRA; TINJAUAN KRITIS BAHASA ARAB
.
.
[1]
Ibnu Hajar, dalam kitab "Fathu-l Bari Syarh Shahih al-Bukhari", hadits Bukhari  jilid 3 halaman 164 hadits 3.547 (versi Arab) dan jilid 4 bab 56 hadits nomor 747 (versi bahasa Inggris), atau www.sunnah.com/bukhari/61/56, dari Rabi'ah bin Abi 'Abdur-Rahman: "Sami'tu Anas ibna Maalik, [aku mendengar dari Anas  bin Malik], yashifun nabiyya shollallahu 'alayhi wa sallam qala kaana... AZHARA-L Lawn [bahwa Rasulullah.saw, the Prophet.saw, had a rosy color, memiliki warna kulit putih kemerah-merahan, merah jambu]".
.
.
[2]
Apa penjelasan Ibnu Hajar terkait hadits ini? Ibnu Hajar dalam syarh-nya menjelaskan: "Qawluhu azhara-l lawn, annahu kana 'abyadha musyarraban humratan, [bahwa maksud dari "AZHARA-L Lawn", adalah putih kemerah-merahan, merah jambu, abyadha musyarraban humratan]".
.
.
[3]
Dalam Syama'il Muhammadiyah jilid 1 hadits no.6, The Noble Features of Rasulullah, bahwa setiap kali Ali bin Abi Thalib.ra mendeskripsikan karakter atau ciri fisik Rasulullah.saw, Ali.ra selalu mengatakan: "Abyadhu musyarrobun, that the complexion of Rasulullah.saw was [white with redness in it]", bahwa rona warna elok kulit Rasulullah.saw adalah "abyadhu musyarrabun", putih kemerah-merahan/merah jambu".
.
.
[4]
Anas bin Malik, pelayan Rasulullah.saw, Ali bin Abi Thalib.ra keponakan Rasulullah.saw, menyebut Rasulullah, AZHAR. "Al-'Arabu yaquulu li-l abyadh musyarraba humratan, AZHAR", orang-orang Arab mendeskripsikan putih kemerah-merahan atau merah jambu, dengan sebutan, AZHAR".
.
.
[5]
Rasulullah.saw memiliki karakter "abyadh musyarraban bi-humra", putih kemerah-merahan atau merah jambu dan oleh karena itu beliau disebut...  AZHAR. Fa-idzan, maka, ibnatuhu, puteri perempuan beliau.saw yakni Fathimah, hamilat shifatahu, pun menyandang sifat yang sama seperti sang ayah, "baydha musyarabatan bi-humra", putih kemerah-merahan/merah jambu cenderung pink, dengan sebutan... ZAHRA.
.
.
[6]
Karakter Fathimah puteri Rasulullah.saw ini pun terekam dalam hadits al-Hakim, riwayat Anas bin Malik, yang diriwayatkan dalam kitab "Al-Mustadrak  Al-Hakim" (Mustadrak 'ala-sh Shahihayn) jilid 3 halaman 161: "Saaltu ummiy 'an Fathimah, aku bertanya kepada ibuku tentang Fathimah puteri Rasulullah.saw, fa-qalat, dan ibuku berkata: "kaanat ka-l qamari laylata-l badri (Fathimah  bagaikan bulan purnama di malam hari), aw syamsi kuffira ghamama (atau seperti matahari yang tertutupi awan-awan), idza kharaja mina-s sahab baydha musyarrabatan humratan (dan awan-awan tersebut berwarna putih, with a sense of red, dengan warna kemerah-merahan)".
.
.
[7]
Karena Fathimah berkulit putih kemerah-merahan, ia dijuluki ZAHRA. Dalam  kitab tersohor dan pasti diketahui oleh semua orang yang mendalami bahasa Arab, yakni kitab "Tajul 'Arus min Jawahiri-l Qamus" karya Muhammad Murtadha az-Zubaidi, jilid 3 halaman 250, az-Zubaidi menjelaskan: "Az-Zahra-u, al-mar'atu-l musyriqatu-l wajh wa-l baydha-ul mustaniratu-l musyarrabatu bi-humra" (ZAHRA, is the woman with a shining face, ZAHRA adalah wanita yang memiliki wajah bersinar atau berseri-seri, and the glowing whiteness with a sense of red, dan wajah putih yang berpendar kemerah-merahan).
.
.
[8]
Jadi, memiliki kulit putih kemerah-merahan atau cenderung pink alias merah jambu, jika itu pada pria, orang Arab menyebutnya: "AZHAR". Sedangkan jika wanita, orang Arab menyebutnya: "ZAHRA". Lihat betapa harmoninya dua sebutan ini dalam bahasa Arab, AZHAR-ZAHRA, sama sekali bukan HUMAIRA. Lantas, apa makna/arti sebenarnya sebutan HUMAIRA yang Rasulullah.saw  berikan kepada Aisyah istri beliau?
.
.
[9]
Tahukah Anda, kenapa Abu Hurairah disebut "Hurairah" oleh Rasulullah?  Karena ia selalu membawa kucing dalam lengan gamisnya. Abu Hurairah selalu makan dengan kucing, duduk dengan kucing, tidur dengan kucing, ke mana-mana selalu membawa kucing, sehingga diriwayatkan Rasulullah.saw berkata kepadanya: "A ma anta bi-muntahin Ya Aba Hurairah?", tidak akankah  engkau berhenti, wahai Bapak Kucing, ke sana-ke mari selalu membawa kucing?". Sebagian besar kita menganggap sebutan Bapak Kucing ini sebagai sebutan pujian dari Rasulullah, tapi jika kita lihat konteks kenapa Rasulullah.saw memanggil Abu Hurairah dengan sebutan "wahai Bapak Kucing" karena selalu  wira-wiri ke sana-ke mari selalu membawa kucing... entahlah. Misal, saya teman Anda, ke mana-mana saya selalu membawa kambing, sampai Anda  kemudian berkata kepada saya: "Tidakkah engkau akan berhenti, wahai Bapak Kambing Aris Susanto?" Rrrr... Apakah itu pujian?
.
.
[10]
'Aisyah... Humaira. 'Aisyah... yang berpipi kemerah-merahan. Ternyata, istilah  "HUMAIRA", dengan makna yang demikian (wajah atau pipi kemerah-merahan), tidak eksis dalam bahasa Arab. Sebab sebagaimana bukti-bukti  poin di atas, wajah/kulit putih kemerah-merahan, dalam bahasa Arab lazim disebut AZHAR dan ZAHRA. Malah sebagian istri Rasulullah.saw rata-rata berkulit putih kemerah-merahan, tapi faktanya Rasulullah tidak pernah  menyebut istri-istri beliau yang lain itu dengan sebutan HUMAIRA.
.
.
[11]
Ummu Salamah istri Nabi, memiliki karakter putih kemerah-merahan, tidak dipanggil HUMAIRA. Kemudian istri Nabi yang bernama Maria al-Qibtiyyah, dari kalangan Kristen Koptik, dalam kitab-kitab sejarah digambarkan memiliki  paras cantik dan berkulit putih kemerah-merahan sebagaimana khas bangsa  Romawi, tapi oleh Nabi tidak dipanggil dengan sebutan HUMAIRA. Hanya  'Aisyah saja yang dipanggil dengan sebutan HUMAIRA. Why? Limaadza?
.
.
[12]
Dalam kitab "Lisanu-l 'Arab" karangan Ibnu Mandzhur, dan dalam kitab  "Tahdziibu-l Lughah" karangan al-Azhari, bahwa dalam masyarakat Arab: "Asy- syarru-n nisaa-is-suwaida-ul mimradh" (wanita paling tidak elok, adalah wanita yang kehitam-hitaman pucat karena sakit yang diderita), "wa syarrun min-haa,  AL-HUMAIRA-UL MIHYAADH" (dan yang paling tidak elok dari wanita, adalah mereka yang rona-kulitnya kemerah-merahan KARENA HAIDH).
.
.
[13]
Wanita Arab padang pasir pada masa itu, ketika jatuh sakit selalu berubah  menghitam. Yakni rona-kulitnya berubah setahap demi setahap menjadi gelap, karena sakit yang diderita, sehingga mereka disebut dengan sebutan "SUWAIDA-UL MIMRADH", kulit hitam akibat jatuh sakit, atau banyaknya penyakit yang ia derita.
.
.
[14]
Dan wanita Arab yang selalu "MIHYADH", atau mempunyai siklus haidh yang  lebih cepat/lebih banyak, juga mengalami efek fisiologis/biologis yang sama: warna kulitnya akan mengalami perubahan. Dan karena pada masa tersebut belum ada sesuatu yang bisa dijadikan pembalut yang bisa menahan darah haidh  sebagaimana zaman sekarang, darah haidh tersebut terkadang dan bahkan  sering, mengalir di kedua kaki. Dari sinilah efek perubahan kulit menjadi  kemerah-merahan terjadi, sehingga saking agak tidak senangnya orang Arab, wanita demikian disebut "MIHYADH", dan menggambarkannya dengan sebutan "HUMAIRA", sebagai tanda seringnya ia mengalami menstruasi. Yakni, kondisi menstruasi, menjadikan seorang wanita mengalami perubahan rona  kulit, dan disebutlah ia dengan sebutan: "AL-HUMAIRA-UL MIHYADH".
.
.
[15]
Dan subhanallah, Rasulullah.saw menggunakan istilah "HUMAIRA" ini benar-benar pada tempatnya, pas sesuai maknanya (kayfa laa, bagaimana tidak, beliau.saw adalah orang Arab yang dididik di lingkungan bahasa Arab terbaik sejak kecil). Dan kita mengenal hadits bagaimana Rasulullah.saw memanggil 'Aisyah: "YAA HUMAIRA", dan bahkan ada hadits lain yang redaksi kalimatnya:  "YAA HUMAIRA-S SAQAYN", wahai wanita yang merah "kedua kakinya" (Anda  sudah paham makna ini). Catatan: hadits "humaira-s saqayn" ini, yakni di mana  konon diriwayatkan bahwa 'Aisyah kerap mengalami siklus haidh, masih saya  teliti validitasnya.
.
.
[16]
Thus, dengan demikian, HUMAIRA, berarti MIHYADH, kulit kemerah-merahan, dikarenakan faktor haidh/menstruasi yang teramat kerap atau volume darah haidh yang begitu tinggi.
.
.
[17]
Abu Hayyan at-Tawhidi dalam kitab "Al-Basa'ir wa-d Dakha'ir" jilid 2, dan az- Zamakhsyari dalam kitab "Rabi'u-l Abrar" jilid 1 halaman 461: "Al-Arab taquul (orang-orang Arab biasa berkata): Syarru-n nisaa..." sejelek-jelek wanita,  "...al-Humaira-ul Mihyadh, wa-s Suwaida-ul Mimradh".
.
.
[18]
SEBAGAI PENUTUP. Seorang ulama besar, Ibnu-l Qayyim al-Jawziyyah,  mengerti makna kata HUMAIRA ini. Beliau mengetahui benar bahwa HUMAIRA  adalah kata yang bermakna negatif, sehingga beliau ME-REJECT TOTAL, MENOLAK TOTAL, SEMUA hadits Nabi Muhammad.saw yang memuat kata:  "YA HUMAIRA"! Silakan di-cek dalam kitab Ibnu-l Qayyim al-Jawziyyah "Al- Manaru-l Munif fi-sh Shahih wa-dh Dha'if" halaman 45 (http://bit.ly/manarulmunif).
.
.
[19]
Di halaman 45 tersebut Ibnu-l Qayyim berkata: "KULLU HADIITSIN FIIHI "YAA  HUMAIRA" AW DZIKRU-L "HUMAIRA", FA-HUWA KADZIBUN MUKHTALAQ!"  (Seluruh hadits yang di dalamnya memuat kata "YA HUMAIRA", atau menyebut  "HUMAIRA", ADALAH HADITS MAUDHU'! PALSU! BOHONG! ALIAS DIBUAT- BUAT!") ---- Dan kita tahu, hadits "YA HUMAIRA" ini ada dalam hadits Ibnu  Majah (satu dari 6 Kitab Hadits Terpercaya), dan konon juga diriwayatkan oleh an-Nasa'i, di mana disebutkan bahwa isnad hadits ini adalah SAHIH. Tapi di lain pihak, ulama sekaliber Ibnu-l Qayyim, menyatakan hadits "YA HUMAIRA" ini sebagai KADZIBUN MUKHTALAQ (BOHONG dan DIKARANG-KARANG).
.
.
[20]
Anda kaget? Anda bingung? Anda pusing? Apalagi saya.
Note: Jadi ibu-ibu kaum muslimat, kalau mau menamai puterinya, pilihlah nama ZAHRA, dan jangan HUMAIRA. Wassalamu'alaikum.
Wasalam.,BERMUKA MANIS BUKAN MASAM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAUHID

1- Untuk penafsiran surat tauhid ini, sebenarnya bisa dipelajari di akidah. Bisa merujuk ke catatan yang berjudul "Pokok-pokok dan Ringkasan Ajaran Syi'ah" bagian tauhidnya. Rinfkasnya bisa disimak di bawah ini. Begitu pula bisa merujuk ke catatan tentang Irfan dan Wahdatu al-Wujud. Jadi, surat Tauhid itu, bisa dipahami dengan mempelajari ilmu Kalam dan Irfan. 2- Inti Ajaran Tauhid dan Akidah Tentang Tuhan dalam Pandangan Ilmu Kalam dan Filsafat Inti ajran tauhid dan akidah tentang Tuhan dalam pandangan ilmu Kalam dan Filsafat adalah: a- Tuhan itu artinya Wujud Tidak Terbatas. Karena itu, tidak dicipta dan tidak pula bermula dan, juga sekaligus merupakan sumber dari segala wujud yang ada. b- Tuhan yang demikian itu, pasti adaNya. Karena kalau tidak ada, maka tidak mungkin ada keberadaan yang terbatas. Sebab yang terbatas, memiliki awal dan akhir. Yang memiliki awal, maka pasti sebelum awalnya itu, ia tidak ada. Dan kalau sebelum awal tidak ada, lalu setelah awal...